Wikileaks kembali mempublikasikan dokumen rahasia penyadapan 3 presiden Prancis

Wikileaks kembali mempublikasikan dokumen rahasia penyadapan 3 presiden Prancis

34
0
SHARE

Amerika Serikat membantah telah menyadap tiga presiden Prancis seperti yang dilaporkan situs pembocor dokumen rahasia WikiLeaks. 
Presiden AS Barack Obama menegaskan negaranya sudah tidak lagi melakukan aktivitas intelijen seperti itu. Lantas, seperti apa isi dokumen berlabel "Rahasia Penting" itu? 
Serangkaian dokumen rahasia itu meliputi lima dokumen dari Agensi Keamanan Nasional AS atau NSA. Dokumen terbaru tercatat 22 Mei 2012, satu hari setelah Presiden Prancis Francois Hollande dilantik. 
Dokumen itu menyebut Hollande "sepakat menggelar rapat rahasia di Paris untuk mendiskusikan krisis zona Eropa, terutama terkait konsekuensi yang terjadi jika Yunani terlempar dari zona Eropa." 
Disebutkan pula Hollande meyakini Kanselir Jerman Angela Merkel "sudah menyerah (terhadap Yunani) dan tidak bersedia membantu lebih jauh."
"Hal ini membuat Hollande sangat khawatir terhadap Yunani dan warganya, yang mungkin saja dapat mendukung partai ekstremis," demikian tertulis dalam dokumen rahasia itu, seperti dikutip AFP, Rabu (24/6/2015).
Rangkaian dokumen lainnya, tercatat tahun 2008, menyebutkan (mantan Presiden Nicolas) "Sarkozy melihat dirinya sebagai satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan masalah krisis ekonomi dunia." Ia menyalahkan sebagian besar masalah ekonomi saat itu diakibatkan kesalahan pemerintah AS. Namun ia juga meyakini AS sudah mulai mau mendengarkan nasihat dirinya. 
Bocoran lainnya menyebutkan rasa frustrasi Sarkozy terhadap aktivitas mata-mata AS. Ia mengatakan hambatan utama dalam meningkatkan kerja sama intelijen adalah "hasrat AS yang ingin terus memata-matai Prancis."
Pendiri situs WikiLeaks Julian Assange menegaskan ini adalah saatnya untuk menyeret Amerika Serikat ke hadapan hukum atas aktivitas penyadapannya di beberapa negara dunia. 
Berbicara di saluran televisi TF1, tadi malam, Assange mendesak Prancis bertindak lebih jauh dari Jerman dengan menggelar "penyelidikan di level parlemen" dengan juga melibatkan jaksa agung. 
Sejumlah jaksa di Jerman telah menyelidiki dugaan penyadapan AS terhadap Kanselir Angela Merkel. Namun penyelidikan dihentikan karena tidak adanya bukti kuat. 
Assange, yang saat ini masih berlindung di Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris, menyebut laporan terbaru penyadapan AS terhadap tiga Presiden Prancis merupakan awal dari rentetan dokumen lainnya. 
"Ini adalah awal dari sebuah seri (dokumen), dan saya meyakini material yang paling penting akan muncul," ujar Assange. 

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

NO COMMENTS

Comments are closed.