Super Teknologi Anti Contek Saat UN (Ujian Nasional)

Super Teknologi Anti Contek Saat UN (Ujian Nasional)

21
0
SHARE

Berhubung pengen UN dan kadang UN sering tercoreng dengan kegiatan-kegiatan curang dan mencurangi.
Untuk mengurangi hal tersebut, kita bisa memanfaatkan banyak teknologi lho gan, beberapa diantaranya sebagai berikut:

Computer Based Test: Proctortrack:
Proctotrack:

Merdeka.com – Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan sederajat tinggal menghitung hari. Di beberapa sekolah terpilih, UN akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT). Dan sama dengan tes lainnya, ujian tipe online ini rawan tindak kecurangan.

Nah, untuk menghindari kecurangan seperti mencontek dan sebagainya, mungkin teknologi pengawas online buatan Amerika ini bisa dimanfaatkan. Salah satu contoh teknologi anti-contek berbentuk software komputer itu adalah Proctortrack.

Software yang diciptakan oleh Verificient Technologies diklaim sebagai software pengawas ujian pertama yang dapat beroperasi secara otomatis. Bahkan, perusahaan pembuatnya menyatakan bila Proctortrack sudah sukses dipakai untuk mengawasi ujian ribuan pelajar, seperti mahasiswa di Universitas Rutgers, Amerika.

Penerapan software anti-contek ini juga tergolong mudah dan hanya membutuhkan perangkat tambahan berupa kamera webcam. Setelah dipasang di komputer peserta ujian, secara otomatis Proctortrack akan memindai wajah untuk proses pencocokan identitas ujian.

Ketika peserta mulai mengerjakan ujian, Proctortrack akan memberikan tanda berupa tombol berwarna merah yang menandakan si software sedang melakukan pengawasan. Peserta pun bisa melihat wajahnya di sebuah jendela kecil di layar komputer.

Apabila peserta terpantau melakukan hal-hal mencurigakan, maka secara otomatis Proctortrack akan memberikan tanda pelanggaran. Contoh hal-hal yang dianggap aksi mencontek menurut Proctortrack adalah menoleh, mengambil pensil atau benda lain yang terjatuh, hingga menggaruk-garuk kepala.

Setelah ujian selesai, pengawas ujian ‘asli’ tinggal masuk ke server Proctortrack sekolah dan melihat video-video peserta ujian. Dan dengan keberadaan tanda pelanggaran yang ada, sangat mudah untuk melihat siapa saja yang mencontek atau melakukan tindakan curang lainnya.

Sayangnya, tidak sedikit pihak yang mengecam penggunaan software anti-contek seperti Proctortrack, khususnya dari kalangan pelajar. Mereka mengaku bila software tersebut terlalu mengekang.

“Aku merasa penerapan software anti-contek terlalu berlebihan,” ucap Betsy Chao, salah satu mahasiswi Universitas Rutgers yang menggalang kampanye penolakan software anti-contek untuk ujian online, New York Times (06/04).

Untuk saat ini penolakan tersebut memang cukup beralasan. Sebab, hal-hal sepele bisa dianggap pelanggaran, contohnya perubahan cahaya di ruangan ujian. Selain itu, teknologi seperti ini terinspirasi dari software pengawasan teroris yang biasa terdapat di kamera keamanan bandara.

Helm Anti Contek:

VIVAlife – Universitas Kasetsart di Bangkok menciptakan inovasi baru guna mencegah siswa mereka mencontek selama ujian. Inovasi tersebut berupa helm kertas yang harus digunakan siswa saat mengerjakan soal ujian.

Soal desain, Kasertat tidak terlalu ambil pusing. Mereka memfokuskan pada efektivitas, oleh karena itu, helm anti mencontek tersebut berbentuk seperti kacamata kuda, yang diikatkan di sekeliling kepala.

Uniknya, Kasertat sebenarnya merahasiakan helm tersebut, sampai seorang alumni Kasertat membocorkannya melalui jejaring sosial media Facebook. Hanya sesaat setelah diunggah, Kasertat langsung menghapusnya, namun sayang, internet sudah merekam jejak helm inovatif tersebut dan menyebarkannya.

Salah satu laman yang menyebarkan foto helm anti mencontek tersebut adalah Coconut Bangkok.

Kini, helm anti-nyontek Kasertat menjadi topik pembicaraan seru di internet. Walaupun demikian, Kasertat menolak memberikan keterangan mengenai helm tersebut.

CCTV:

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Selain pengawas yang ditempatkan di setiap ruang kelas, penjagaan pelaksanaan ujian nasional (UN) di SMA 5 Kota Bandung, Jawa Barat, dibantu oleh kamera “Closed Circuit Television” atau CCTV.

Kepala Sekolah SMA 5 Jumdiat Marzuki ketika ditemui di kompleks sekolah SMA 5 Kota Bandung, Senin, mengatakan kamera CCTV yang sudah terpasang sejak 2010 itu sebenarnya bukan dikhususkan untuk mengawasi para siswa selama pelaksanaan UN.
Kamera yang dipasang di 18 ruang kelas dan juga di titik-titik tertentu seperti di selasar ruang kelas, perpustakaan dan ruang piket itu lebih untuk alasan keamanan.

“Kamera itu bukan dipasang khusus untuk pelaksanaan UN, tapi sudah ada sejak 2010 untuk keamanan sesuai dengan status SMA 5 yang termasuk rintisan sekolah bertaraf internasional,” ujarnya. Namun, lanjut dia, keberadaan kamera CCTV itu cukup membantu untuk memantau ketertiban di dalam kelas selama ujian berlangsung.

Ruang kontrol layar kamera tersebut terdapat di ruang kepala sekolah, sehingga ia setiap saat dapat memeriksa keadaan para siswa yang mengikuti ujian.

Ia mengatakan hari pertama pelaksanaan UN di SMA 5 Kota Bandung berjalan tertib. Di SMU 5 Kota Bandung terdapat 401 siswa yang mengikuti UN terdiri atas kelas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebanyak 330 siswa dan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebanyak 71 orang.

Para siswa peserta UN itu terbagi dalam 21 ruang kelas yang diawasi oleh 51 orang pengawas. Pengawasan UN menggunakan sistem silang sehingga para pengawas berasal dari sekolah lain yang berada dalam satu sub rayon yang sama. Para pengawas juga dipastikan bukan guru dari mata pelajaran yang diujikan.

SMA di Kota Bandung bukan satu satunya sekolah yang melibatkan CCTV (kamera pemantau) dalam pelaksanaan UN. DI SMAN 1 Kota Bogor, Jawa Barat, jasa kamera pemantau juga digunakan untuk mengawasi pelaksanaan hari pertama ujian nasional (UN) 2012.
Peserta UN di Kota Bandung mencapai sekitar 36 ribu peserta siswa SMA, MA, dan SMK. Sedangkan untuk Provinsi Jawa Barat berjumlah 397.563 siswa.

UN untuk tingkat SMA dilaksanakan serentak di seluruh daerah di Indonesia pada 16-19 April 2012. Untuk hari pertama mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia.

Kalo menurut agan-agan dan aganwati gimana yah?

Setuju tidak kalau UN di pantau dengan teknologi seperti ini?

(sumber)

NO COMMENTS

Comments are closed.