Pengalaman Sidang Tilang Karena Minta Slip Biru

Pengalaman Sidang Tilang Karena Minta Slip Biru

30
0
SHARE

Minggu, 11 Januari 2015“Selamat sore Bu, ke kanan sedikit yah” pinta Pak Sodikin, sang polantas  yang memberhentikan mobil gue di kawasan Harmoni. Gue langsung mengarahkan mobil ke sebelah kanan mendekat ke pos polisi Harmoni. “Boleh lihat SIM-nya?” pintanya kembali setelah gue selesai mengarahkan mobil ke sebelah kanan. Gue segera mengambil SIM yang ada di dompet gue dalam tas yang diletakan di kursi penumpang depan. Gue sengaja tidak mengeluarkan dompet dari tas, karena gue inget kata-kata temen gue “Kalau elu mau keluarin SIM dari dompet karena diminta polisi, usahain supaya polisinya nggak lihat isi dompet lu.” Lalu gue memberikan sambil berkata, “ini yah pak.” “Kalau STNK-nya ada Bu? Boleh saya lihat?” tanya Pak Sodikin. “Oh, sebentar yah Pak” kata gue sambil merogoh dompet kunci yang masih menggelantung pada kunci yang tertancap di lubang kunci mobil. Gue buka dompet tersebut dan mengambil STNK di dalamnya. Gue segera menyerahkan langsung ke Bapak Sodikin. Beliau segera mengecek data dalam SIM dan STNK gue kemudian Ia bilang bahwa gue melewati marka jalan. Dan gue hanya mengangguk saja, karena gue baru pertama kali nyetir sendiri melewati jalur itu. Kondisinya saat itu gue dari Grand Indonesia Mall mengarah ke Gajah Mada. Gue ambil jalur kiri dan mendapati lampu merah. Lalu gue mencoba mengambil jalur kanan dan mendapati bahwa jalur itu mengarah ke Pecenongan. Akhirnya gue memperlambat laju mobil dan begitu lampu hijau gue mematahkan jalur ke kiri. Namun begitu melewati lampu lalu lintas, gue diberhentikan oleh seorang Polantas. Ditilang.Kemudian Pak Sodikin pergi meninggalkan gue masuk ke dalam pos polisi. Gue hanya diam saja menunggu di mobil. Gue mendengarkan lagu dari radio yang sedang diputar sembari membuka website google di handphone. Gue mencari perbedaan antara slip merah dan slip biru untuk tilangan. Dengan waktu yang terbatas dan sedikit rasa gugup karena baru pertama kali ditilang, gue hanya mendapatkan informasi bahwa kalau gue meminta slip biru artinya gue mengakui kesalahan gue dan wajib membayar denda. Gue mulai nanya di group whatsapp gue, sebaiknya gue minta slip merah atau biru. Respon teman gue beragam, mulai dari nanya gue kena tilang dimana, kenapa bisa kena tilang, sampe akhirnya gue mendapatkan saran dari temen gue untuk meminta slip biru. Alasannya karena denda langsung dibayarkan ke rekening negara, jadi dapat dipastikan jika gue minta slip biru dan bayar denda, duitnya masuk kas negara. Sekitar 10 menit kira-kira gue diam di dalam mobil, lalu gue tak melihat sama sekali sosok Pak Sodikin. Akhirnya gue memutuskan untuk mematikan mesin, keluar dari mobil dan nyamperin Pak Sodikin di dalam pos polisi. Di dalam sana, gue mendapati beliau sedang menulis surat tilangan di atas lembar merah.“Pak, saya minta slip biru saja yah” pinta gue.“Nanti Ibu denda maksimalnya Rp. 500.000 loh”“Iya gakpapa, Pak. By the way, kalau saya cuma melanggar 1 pasal, memang denda seharusnya berapa Pak?” tanya saya kembali“Ya nggak tau saya, tergantung nanti.”“Maksudnya?”“Iya, nanti pengadilan yang menentukan. Ibu bayar denda maksimal Rp 500.000 di BRI cabang Veteran yah”“Kenapa di cabang Veteran, Pak?”“Karena ini yang paling dekat dengan posisi Ibu ditilang. Tapi karena ini hari Minggu, Ibu bayarnya hari Senin yah.” “Silahkan Ibu tanda tangan disini” pinta Pak Sodikin sambil menyodorkan buku tilang.“Pak, sebelum tanda tangan, saya baca dulu yah isinya apa”“Silahkan”Gue memperhatikan isi dari surat tilangan tersebut, ada keterangan data pribadi gue mulai dari Nama, Alamat, TTL, dan lain lain, berita acara pelanggaran, keterangan dokumen yang disita, waktu dan tempat persidangan, denda maksimal dan bank setor, pernyataan terdakwa serta ruang bank.Sembari membaca, gue banyak bertanya kepada Pak Sodikin,“Ini kenapa ada tanggal sidang Pak? Saya harus sidang?”“Iya, biar tau dendanya berapa”“Walaupun saya minta slip biru?” tanya gue untuk meyakinkan“Iya Bu” jawabnya.“Lalu ini pasal 287 ayat 1 itu apa Pak?”“Itu pelanggaran yang Ibu lakukan, sesuai dengan UU 22/2009”“Coba yah Pak, saya browsing dulu pasal itu isinya apa” kata gue sambil searching di google. Gue mendapati bahwa pasal 287 ayat 1 berbunyi :

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

“Lalu ini kolom terdakwa saya isi dulu yah Pak”“Nggak usah, langsung tanda tangan aja”“Loh koq gitu, saya mau isi dulu yah Pak.” pinta gue sambil minta mengisi kolom terdakwa. Gue mencentang pilihan sidang yang diwakili. Gue menuliskan nama kakak gue dan alamat tempat dia tinggal. “Pak, kalau misalnya disini saya pilihnya persidangan akan diwakilkan, tapi nanti kenyataannya saya datang sendiri, nggakpapa?” “Iya gakpapa, lebih baik malah iya” jawab si Pak Sodikin.Sebelum menandatangani, gue make surelagi ke Pak Sodikin, apa benar gue harus tanda tangan di slip merah ini jika gue pengin minta slip biru, dia mengatakan benar sebab sertas surat tilang ini berupa kertas karbon yang terdiri dari lima lapis merah – biru – kuning – hijau dan putih. Akhirnya gue menandatangani, kemudian Pak Sodikin memberikan slip biru tersebut berbaregan dengan STNK mobil. SIM gue ditahan sama Pak Sodikin.

Slip Tilang BiruSenin, 19 Januari 2015“Selamat Pagi, ada yang bisa dibantu Ibu?” tanya Pak Pri, seorang satpam di depan lobi bank BRI Veteran sembari membukakan pintu kaca sambil tersenyum.“Pak, saya mau bayar tilangan. Caranya bagaimana yah?“Tunggu sebentar yah, saya ambilkan form-nya” jawab Pak Tri, sembari mempersilahkan gue duduk di ruang tunggu. Setelah mengambil form yang dimaksud, dia menghampiri gue, “Ibu, ini formulir yang harus dilengkapi. Setelah selesai langsung ke teller saja yah Bu.”“Baik, Pak. Terima kasih”Gue mengisi formulir seperti gambar di bawah ini. Dimulai dari nama, alamat, nomor form tilang, nominal denda maksimal dan tanda tangan. 

Slip setor denda tilang

Setelah selesai mengisi, gue segera menuju ke teller dan mendapati Mbak Astrid yang bertugas disana. Gue langsung menyerahkan form setor, surat tilang biru serta uang sejumlah Rp. 500.000,- Mbak Astrid memproses transaksi gue dan setelah selesai, dia memberikan kembali slip yang sudah ditandatangani sebagai bukti bahwa gue sudah selesai transaksi. Gue langsung bertanya ke Mbak Astrid, “Mbak, tau nggak? Habis ini saya bisa ambil SIM saya dimana yah?” “Kalau dilihat dari slip biru, Ibu ambilnya di Polda Sudirman yah”, jawabnya. “Tapi mbak, saya harus sidang tanggal 23 Januari 2014, kalau saya lihat di slip biru ini” jawab gue sambil menunjukan keterangan tanggal sidang ke Mbak Astrid. Kemudian Mbak Astrid bertanya pada rekan di sebelahnya dan dia menjawab, “kalau Ibu mau ikut sidang, berarti ambil SIM-nya pas sidang itu yah Bu, di pengadilan Jakarta Pusat”. “Oh gitu yah Mbak, terima kasih buat informasinya. Mari, Mbak” tutup gue.Jumat, 23 Januari 2015Pagi itu, gue inget banget Jakarta diguyur hujan dari semalaman. Setelah gue nengok keluar rumah, banjir udah setinggi 30cm. Gue langsung buru-buru untuk bersiap-siap dengan harapan gue bisa sampe di Pengadilan Negri Jakarta Pusat jam 08.00. Tapi alam berkata lain, macet yang luar biasa di sepanjang perjalanan gue ditambah genangan air mengharuskan gue memperlambat laju mobil, gue baru bisa sampe di lokasi jam 08.30. Udah gitu ditambah nyasar pula, jadilah gue telat sampe. Gue sebelumnya udah membayangkan bahwa gue akan riweuh disana. Gue harus antri ngambil nomor antrian, masuk ke dalam ruang persidangan, duduk di hadapan jaksa dan hakim kemudian diberikan putusan yang harus gue tanggung, seperti persidangan yang gue lihat di televisi. Begitu gue sampe, gue pun harus parkir di pinggir jalan karena parkiran di dalam area PN Jakpus sudah penuh. Banyak orang menawarkan jasanya untuk mengurus tilang gue. Namun, semuanya gue tolak dengan satu alasan, gue pengin tahu proses tilang yang sebenarnya itu seperti apa. Gue bertanya pada satpam yang sedang berjaga di depan tentang lokasi sidang. Beliau mengatakan di lantai 2. Gue segera bergegas menuju tempat yang dimaksud si Bapak satpam. Gue menaiki anak tangga dan mendapati kerumunan orang-orang yang sedang mengantri. Gue mendekati perlahan untuk mencari tau apa yang mereka lakukan. Ternyata mereka sedang mengambil nomor antrian. Gue menunggu sampe keadaan sepi, kemudian gue bilang ke petugas disana, “Misi mas, saya mau ambil nomor antrian sidang” kata gue sambil memperlihatkan slip biru dan slip setor tilang. “Ini sudah di fotokopi belum mbak?” tanya si petugas. “Oh belum mas”, “yasudah, di fotokopi dulu yah mbak, masing-masing satu lembar untuk dokumentasi Mbak-nya” jelasnya kembali. “Kalau di foto saja di hanpdhone, bisa nggak mas?” tanya gue. “Mendingan di fotokopi, Mbak.” “Oke, mas, baiklah”.Gue segera turun tangga mencari tempat fotokopi yang kata si petugas tadi ada di belakang gedung. Gue berjalan ke belakang gedung dan menemukan sekumpulan orang yang sedang karaoekan di temani suara hujan. Lalu gue tengok kanan kiri sampai akhirnya menemukan sebuah ruangan dengan pintu kaca yang bertuliskan ‘tempat fotokopi tutup’. Sedih. Akhirnya gue bertanya kepada salah seorang yang sedang karaokean, letak tempat fotokopi lainnya ada dimana. Beliau menjelaskan bahwa gue harus keluar gedung dahulu, belok ke kanan, kanan lagi sampai menemukan gang kecil di sisi kanan dengan plang bertuliskan ‘fotokopi’. Gue mengikuti arahan si Bapak sambil payungan cantik karena hujan yang tak kunjung reda. Setibanya di tempat fotokopi, gue antri lagi. Disana seorang Ibu yang sepertinya calo menawarkan diri untuk mengurus tilangan gue, namun gue bilang dengan sopan, “tidak usah, Bu. Terima kasih”. Lalu dia bilang, “kalau nanti denda kamu Rp. 500.000,- bilang saja ke saya, nanti saya minta turunin dendanya.” Gue Cuma bilang dengan jipernya, “baik, Bu. Terima kasih.” Selesai ngomong begitu, si Ibu pergi meninggalkan tempat fotokopi dan kemudian gue mikir dalam hati, “Gimana cara gue menghubungi Ibu itu, secara gue nggak punya contact personnya dia.”Selesai fotokopi berkas, gue kembali lagi menemukan si petugas nomor antrian. Gue dapet nomor 187.

Nomor Antrian Sidang

Setelah gue mendapatkan nomor antrian, seorang Bapak yang berdiri di sebelah petugas bertanya :“Ibu, sudah tau prosesnya kalo slip biru bagaimana?”“Sudah, Pak” jawab gue sambil tersenyum dengan penuh keyakinan padahal nggak yakin-yakin amat.Kemudian gue menunggu nomor gue dipanggil sambil memperhatikan sekitar. Banyak bapak dan ibu yang sedang menunggu antrian juga seperti gue. Ada juga beberapa petugas yang duduk di dalam ruangan sidang menghadap keluar dengan tumpukan slip merah di depannya sambil berteriak, kira-kira seperti ini :“Enam puluh dua.. tujuh puluh ribu”“Tujuh puluh enam.. seratus lima puluh ribu”Orang-orang yang memiliki nomor antrian tersebut langsung mengahmpiri si petugas, memberikan sejumlah uang dan menerima surat yang ditahan, entah SIM atau STNK. Semacem barter.Gue langsung mikir dengan polosnya, “koq nggak ada sidangnya? Apa gue nanti prosesnya beda?”. Gue dapet informasi dari temen kampus gue yang pernah sidang tilang dengan stepping kira-kira seperti ini : masuk ke dalam ruang sidang – duduk – dibacain putusan dan ketok palu – slip tilang diberikan – bayar ke loket – ambil SIM/STNK di loket. Tapi ini yang gue lihat lebih kaya barter, ada uang ada barang. Entahlah.“Mbak Easther” panggil petugas nomor antrian“Ya Pak” kata gue sembari menghampiri petugas tersebut yang ternyata bernama Hendro.“Ini yah SIM-nya” kata Mas Hendro sambil menyerahkan SIM gue. Gue langsung mengecek SIM gue yang dibungkus plastik lalu bertanya, “kenapa nggak ada sidangnya, Mas?”“Mbak Easther nggak perlu sidang lagi karena sudah bayar denda ke Bank BRI”“Loh, denda saya berapa Mas jadinya? Kwitansinya mana? Bukannya denda saya seharusnya diputuskan di pengadilan?” tanya gue bertubi-tubi“Mbak, hari ini semua slip ditumpuk dulu, nanti sore baru di serahin ke kejaksaan”“Loh koq gitu Mas?”“Iya, soalnya nggak keburu kalo di sidang satu-satu. Ada banyak. Tuh mbak, lihat deh di bawah meja” jawab si Mas Hendro sambil menunjukan salah satu kolong meja di dalam ruang sidang.“Terus saya bisa dapetin kwitansi denda saya untuk tau besarnya berapa dimana mas?”“Gini yah, hari Senin tanggal 26 Januari 2015, mbak ke Kejaksaan di Kemayoran” jawab Mas Hendro“Lalu? Saya disana ketemu sama siapa?”“Mbak, bisa ketemu sama Pak Arief atau Pak Jamal atau Bu Resti. Mbak datang jam 9 saja kesana”“Oh begitu, yasuda terima kasih yah mas Hendro” tutup gue.Senin, 26 Januari 2015Gue berangkat dari kantor menuju Kejaksaaan Negri sekitar pukul 08.30 pagi karena kebetulan letak Kejaksaan Negri Jakarta Pusat tidak terlalu jauh dari kantor gue. Setibanya disana, gue langsung menuju loket tilang. Gue banyak menjumpai orang yang sedang duduk di depan loket. Setelah gue perhatikan, orang tersebut hendak mengambil surat yang ditahan polantas saat ditilang. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan di pengadilan yang gue lihat pada hari Jumat lalu. Orang di dalam loket memanggil nama yang ada di kertas tilang merah dan menyebutkan nominal yang harus dibayarkan. Setelah dibayar, surat yang ditahan, entah SIM atau STNK dikembalikan. Gue langsung menghampiri loket tersebut kemudian bertanya kepada salah satu orang di dalam loket tersebut, “permisi Pak, saya bisa ketemu dengan Pak Jamal?” tanya gue, “Oh iya, saya sendiri. Ada apa Ibu, ada yang bisa dibantu?”, “saya mau ambil kwitansi denda tilang saya” jawab gue sambil menyerahkan lembar fotokopi yang gue punya. “Oh, Ibu kemarin minta slip biru yah? Begini Bu, berkasnya belum turun sampai ke Kejaksaan, ini kan Ibu baru ke pengadilannya Jumat lalu, palingan berkasnya baru selesai Jumat minggu ini”. Gue diem sebentar mencoba memahami maksudnya Pak Jamal dan tetap tidak mengerti. “Loh, waktu di pengadilan, saya diminta kemari hari ini Pak buat ambil kwitansi dendanya. Koq udah sampai sini masih disuru menunggu lagi?” tanya gue lagi ke Pak Jamal. “Iya Bu, berkas akan dikirimkan pengadilan kesini. Biasanya butuh waktu seminggu. Gini aja, Ibu berikan ke saya fotokopi KTP 2 lembar dan nomor handphone Ibu. Kalau misalnya putusan pengadilan lebih kecil dari denda maksimal, nanti Ibu kami SMS untuk datang kemari lagi dan kami berikan surat keterangan buat pengembalian uang ke Bank BRI.” “Loh, kalo dendanya sama, terus saya nggak di SMS-in? Saya mau minta kwitansinya dong Pak buat lihat denda sebenarnya berapa?” pinta gue. “Yauda Bu, Senin depan, Ibu kemari lagi yah. Pasti sudah ada kejelasannya. Minta fotokopi KTP dan nomor handphonenya yah Bu”. Karena gue udah males nanya-nanya lagi kenapa harus begini dan kenapa harus begitu dan kenapa terkesan di-php, akhirnya gue memberikan fotokopi KTP 2 lembar dan nomor handphone gue. Kemudian guesay thanks ke Pak Jamal lalu kembali ke kantor untuk bekerja seperti biasa.Seminggu gue tungguin, tapi nggak ada SMS juga yang masuk ke handphone gue. Senin siang, 2 Februari 2015, menjelang waktunya lunch, gue dateng lagi ke Kejaksaan untuk minta kejelasan dan kwitansi denda gue. Gue ketemu lagi sama Pak Jamal dan beliau meminta gue untuk menunggu sebentar. Kira-kira 5 menit menunggu, gue dipanggil untuk fotokopi hasil sidang 2 lembar. Disitu tertera bahwa gue kena denda Rp. 249.000,- dan biaya perkara Rp. 1.000,- Gue langsung jalan ke tempat fotokopi di dalem area Kejaksaan, lalu gue kembali lagi ketemu Pak Jamal dan menyerahkan fotokopi tersebut. Sehabis itu dia menyerahkan ke gue surat pengembalian uang denda,  fotokopi slip tilang, fotokopi putusan sidang dan fotokopi KTP. Kemudian Pak Jamal bilang sama gue bahwa duit kembalian bisa gue ambil di BRI cabang Veteran dengan menyerahkan berkas tersebut. Dan di akhir pembicaraan kami salah satu petugas di dalam loket bilang ke gue, “besok-besok minta slip merah aja, nggak ribet”. Gue senyum sambil bilang terima kasih.

Hasil putusan denda tilang

Surat Pengembalian Sisa Denda Tilang

Dari Kejaksaan, gue langsung pergi ke BRI cabang Veteran, prosesnya sama sekali nggak ribet. Menyerahkan berkas ke customer service, menunggu sebentar kemudian dipanggil kasir dan uangnya dikembalikan serta diberikan bukti pengembalian uang.

Slip pengembalian sisa denda tilangSlip pengembalian sisa denda tilang

yang masih gue bingung, kenapa gue nggak sidang yah? terus hakim itu kalo mutusin besaran denda berdasarkan apa yah? yaudahlahya.

NO COMMENTS

Comments are closed.