Lihat Betapa Dekatnya Budaya Betawi Dengan Cina. Masih Protes Gubernur DKI Cina?

Lihat Betapa Dekatnya Budaya Betawi Dengan Cina. Masih Protes Gubernur DKI Cina?

15
0
SHARE

21613-ABI-01CANDRANAYA5
Akhir akhir ini beberapa ormas Islam di Jakarta mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau biasa dipanggil Ahok. Dalam orasinya mereka menentang kepemimpinan Ahok karena beberapa alasan. Salah satunya adalah mereka tidak mau dipimpin oleh Gubernus Cina dan bukan seorang pemeluk Islam. Mereka mengaku adalah perwakilan dari masyarakat betawi Jakarta.
Namun benarkah kalau apa yang mereka suarakan ini benar benar mewakili masyarakat Betawi pada umumnya? Beberapa media mulai mengatakan kalau mereka tidak mencerminkan budaya betawi dan mereka ini entah tidak mengetahui atau pura pura tidak mengetahui dari mana mereka berasal.

Kenapa? Yuk kita telusuri bersama

11391336_10153410828207491_7029857582416860527_n
Source: http://facebook.com/koran.fesbuk
Dirangkum dari website resmi Jakarta Tourism, Cina dan Indonesia khususnya Batavia (Nama asli Jakarta) mempunyai hubungan yang sangat dekat. Pada abad ke 17 VOC berhasil mengajak bangsa Cina ke Indonesia untuk bermigrasi ke Indonesia untuk bekerja dan berdagang.

Di Batavia, mereka umumnya bermukim dan berdagang di sepanjang Pintu Besar, di sekitar sungai Ciliwung, yang sekarang dikenal sebagai Glodok, atau daerah Pecinan Jakarta. Daerah Glodok dimulai dari sepanjang Pancoran sampai dengan Jalan Gunung Sahari. Sejumlah komunitas Cina juga bermukim ke arah Barat yang sekarang dikenal sebagai daerah Tangerang, kini disebut provinsi Banten. Penduduk yang bermukim di daerah Tangerang dikenal sebagai Cina Benteng.

Banyaknya pria Cina yang bermigrasi dan larangan perempuan Cina untuk ikut bermigrasi, membuat banyak pria Cina di Batavia yang akhirnya menikah dengan perempuan lokal, dan menghasilkan budaya peranakan. Gabungan antara budaya Cina, lokal Melayu, Jawa dan tradisi lainnya.

Budaya peranakan ini sangat terlihat jelas di upacara perkawinan, musik, tari dan makanan serta masakan, budaya cina diserap oleh penduduk lokal dan diterapkan dalam berbagai hal.

Salah satu bangunan Cina yang masih dijaga keasliannya sampai saat ini adalah Toko Merah, yang berlokasi di Jalan Kali Besar. Selain Toko Merah ada juga bangunan Candrayana di Jalan Gajahmada. Kedua bangunan ini sering digunakan untuk seminat, pesta perkawinan dan acara acara lainnya.

Lie Cheng Ok - H Marhali - H Gozali - H Hasbullah
Source: http://http://jualkursirodajakarta.blogspot.com/2014/08/beksi-tradisional-h-hasbullah-perguruan.html
Silat Betawi yang sangat legendaris dengan kepopuleran tokoh si pitung juga ada pengaruh dari budaya Cina, Salah satu jenis silat betawi yg terus berkembang sampai saat ini adalah BEKSI, secara bahasa BEKSI berasal dari kata BEK yg berarti Pertahanan (belanda) dan SI yg berarti Empat (Cina), jadi BEKSI itu maksudnya adalah Pertahanan dari Empat penjuru. Kisah Sejarah Riwayat BEKSI pada awalnya dibawa oleh lelaki petani keturunan cina yg hidup dan tinggal di daerah Dadap Tanggerang sekitar tahun 1928, lelaki itu bernama LIE CHENG OK (1854 – 1951), yang juga mahir mengajarkan beladiri (Beksi) kepada anak-anaknya. Hingga akhirnya H. HASBULLAH bin Misin (Kong Has) dan menantunya SABENUH MASIR ( Babeh Benuh ) meneruskan dan mengembangkan BEKSI, Babeh Benuh juga telah di nobatkan sebagai Guru Besar Beksi oleh tokoh silat indonesia yang juga Presiden Silat Dunia, Bpk.H. EDI NALAPRAJA pada tanggal 25 Maret 1986.
Sebenarnya memang bukan rahasia umum lagi kalau cukup banyak pengaruh dalam budaya Indonesia yang menyerap budaya Cina, alangkah sayangnya kalau demo besar besaran yang terjadi akhir akhir ini menyertakan kata kata anti Gubernur Cina. Lagipula bukankah anggota DPRD Jakarta juga mengakui kalau Jakarta sudah ada perubahan? Hanya saja memang komunikasi Ahok yang kurang pas.

(sumber)

NO COMMENTS

Comments are closed.