Kopi luwak kini bukan lagi kopi termahal di dunia, sekarang ada kopi...

Kopi luwak kini bukan lagi kopi termahal di dunia, sekarang ada kopi gajah!

34
0
SHARE

Jika Anda berpikir kopi luwak adalah yang termahal, Anda mungkin salah. Sebab di daerah berbukit-bukit di utara Thailand, biji kopi dari tumpukan k*t*ran gajah diklaim sebagai kopi termahal di dunia.
Selama ini perbukitan Thailand yang berbatasan dengan Myanmar dan Laos tersebut terkenal sebagai pusat kegiatan penyelundupan narkoba. Namun, seorang pengusaha asal Kanada, Blake Dinkin, memutuskan lokasi itu tempat yang sempurna untuk membangun kerajaan bisnis kopi gajahnya. Selain sebagai usaha untuk melestarikan lingkungan sekitarnya.
“Ketika saya menjelaskan proyek saya kepada para pawang gajah, saya sadar mereka mengira saya gila,” kata Dinkin, 44, pemilik perusahaan kopi gajah merek Black Ivory Coffee, dalam laman situs Emirates 247 yang dikutip, Senin 15 Juni 2015.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tidak seperti umumnya pengusaha kopi yang sangat membanggakan kopi luwak, Dinkin justru menggunakan sistem pencernaan gajah untuk menghasilkan biji kopi berkualitas dan bernilai tinggi.

Awalnya, ia juga berniat menggunakan musang atau luwak untuk membuat kopi berkualitas. Tapi Dinkin melihat kualitas produk akhir dari kopi tersebut menurun sementara permintaan kopi meningkat di Asia Tenggara – termasuk di Thailand, Indonesia, dan Vietnam.
Tidak hanya luwak, Dinkin juga pernah mencoba binatang liar lainnya untuk menghasilkan kopi berkualitas dan bernilai tinggi.
“Saya juga pernah mempertimbangkan untuk menggunakan singa dan jerapah sebagai pencerna kopi. Tetapi akhirnya memilih gajah karena hewan ini memakan kopi saat musim kemarau di Asia Tenggara,” katanya.
Namun untuk menghasilkan kopi dari k*t*ran gajah tidak semudah yang dia kira.
“Saya pikir ini prosesnya sederhana seperti memetik kopi, memberikannya pada gajah untuk dicerna, dan keluar sebagai kopi berkualitas,” kata Dinkin, menambahkan bahwa kopi hasil ‘olahan’ gajah pada awalnya ‘mengerikan’ dan ‘tidak bisa dibuat minuman’.
“Butuh waktu sembilan tahun untuk benar-benar berhasil dalam melakukan apa yang saya inginkan,” katanya.
Untuk menghasilkan per kilogram kopi berkualitas, gajah-gajah itu harus memakan sekitar 33 kg biji kopi bersama makanan yang biasa diberikan seperti nasi dan pisang.
Pada panen ketiganya tahun ini, Black Ivory menghasilkan 150 kg kopi yang berharga sekitar US$ 1.880 atau setara Rp 24,9 juta per kilonya. Sedangkan jika ingin menikmati kopi gajah, Anda harus merogoh kocek sebesar US$ 13 atau setara Rp 172.800 per cangkirnya.
Prosesnya, lanjut Dinkin, enzim dalam perut gajah berfungsi seperti alat penggiling yang lambat. Melalui proses pencernaan yang panjang – sekitar 17 jam – asam pencernaan dalam perut gajah akan menyerap rasa pahit dari biji-biji kopi.
“Saya sering kehilangan banyak biji kopi di pagi hari,” katanya, menjelaskan bahwa gajah kadang-kadang buang air b*sar di sungai saat mereka mandi.
Di saat itulah, tenaga istri para pawang gajah diperlukan untuk mengumpulkan biji kopi dari k*t*ran gajah, sebelum mereka mencuci dan mengeringkannya di bawah sinar matahari. Proses ini, kata Dinkin, membantu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Kopi Black Ivory akan segera tersedia di hotel-hotel mewah di Paris, Zurich, Kopenhagen dan Moskow. Namun untuk saat ini masih dijual secara eksklusif di hotel-hotel mewah di Asia, terutama di Thailand, Singapura dan Hong Kong.

NO COMMENTS

Comments are closed.