'Gagal' jadi TKW, Lulus S1 dengan Predikat Cum Laude

'Gagal' jadi TKW, Lulus S1 dengan Predikat Cum Laude

28
0
SHARE

Perjuangan Devi Triasari, ‘Gagal’ Jadi TKW Malah Raih IPK 3,99 di UNS

Jakarta -Di kala segelintir orang memilih jalan pintas dengan membeli ijazah palsu demi gengsi, ada kisah terhormat yang menginspirasi dari seorang Devi Triasari (23). Demi mengubah nasib keluarga, Devi berjuang untuk keluar dari ‘tren’ menjadi TKW di desa tempat tinggalnya di bilangan Ngawi, Jawa Timur.

Rasa bangga tak dia ungkapkan dengan berlebihan ketika Devi berbagi cerita dengan detikcom lewat telepon, Minggu (31/5/2015). Dia hanya mengungkapkan syukur tak henti-hentinya atas pencapaian yang telah dia raih. Bagaimana tidak, dia berasal dari keluarga kurang mampu, namun sukses menggondol gelar sarjana hukum dengan predikat cum laude.

“Bapak saya cuma lulusan SD, dua kakak saya juga lulusan SD, kalau ibu saya malah tidak lulus SD,” kata Devi mengawali cerita menjelang sore hari.

Biaya adalah alasan mengapa keluarganya tak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Untunglah di generasi Devi biaya pendidikan semakin murah dengan adanya program pemerintah.

“Tetapi dulu waktu saya SD juga orang tua kerja keras mencari uang untuk biaya kuliah. Bapak itu buruh tani, kalau ibu pembantu rumah tangga,” ungkap dia.

Sama seperti remaja di kampungnya, Devi sama sekali tak ada niat untuk sekolah tinggi-tinggi. Adalah hal lumrah bagi gadis-gadis seusianya untuk bercita-cita sebagai tenaga kerja wanita.

“Pikirannya kalau jadi TKW itu kan dapat uang di luar negeri, terus bisa kirim uang ke keluarga di desa. Uangnya dipakai beli tanah sama rumah,”

Negeri Sakura adalah tujuan Devi kala itu. Jepang dianggapnya merupakan negara yang modern dan maju sehingga terlihat menjanjikan.

Maka dari itu dia memilih jalur pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan bidang administrasi perkantoran. Di masa itu dia menganggap sekolah hanya sebagai formalitas persyaratan untuk melamar jadi TKW.

“Tapi setelah tanya guru BK (bimbingan konseling -red) saya dibilang harus pintar bahasa Jepang dulu sebelum berangkat. Harus kursus dan harganya juga tidak murah. Tidak mungkin saya minta uang ke orang tua saya untuk itu. Ya sudah saya urungkan niat untuk jadi TKW dan pilih kerja di Magetan, jadi sekretaris,” tutur dia dengan logat Jawa Timur yang khas.

Setahun lamanya dia bekerja di Magetan dengan gaji tak seberapa, namun cukup untuk membantu orang tua. Dari situlah kemudian dia terpikir untuk meneruskan sekolah.

“Saat itu saya baru terpikir kalau ingin mengubah derajat keluarga, saya harus sekolah yang tinggi. Setiap pulang kerja saya sempatkan ke warnet untuk cari informasi beasiswa. Akhirnya saya pilih jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN),” kata Devi. Devi diterima di Fakultas Hukum UNS di Solo, sekitar dua jam dari kampung halamannya. Begitu kuliah, dia langsung memburu beasiswa dan sukses mendapatkan beasiswa Bidik Misi. BIdik Misi adalah program beasiswa Kemendibud untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Setiap bulan dia mendapat biaya hidup Rp 600 ribu dan gratis biaya kuliah. Tentu saja dia mempertahankan prestasinya untuk terus mendapatkan beasiswa pemerintah itu.

Perjuangan Devi berbuah manis. Devi termasuk dalam deretan lulusan terbaik di UNS tahun 2015 dengan meraih IPK 3,99.

“Saya kuliah di Jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, UNS angkatan 2011. Saya lulus dalam waktu 3 tahun 6 bulan, itu termasuk yang tercepat di fakultas saya. Kebetulan saya wisuda juga kloter pertama di tahun ini,” ujar Devi.

Selama kuliah, kegiatan Devi terbilang padat karena dia harus bekerja juga sebagai guru les. Dia juga aktif berorganisasi di GMNI, Solo Mengajar dan pers kampus. Namun kesibukan itu tak menghalanginya untuk berprestasi.

(sumber)

NO COMMENTS

Comments are closed.