Fakta Menyedihkan Mengenai Pendidikan di Indonesia

Fakta Menyedihkan Mengenai Pendidikan di Indonesia

28
0
SHARE

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Untuk mendapatkan pendidikan yang dapat di akui ke absahannya maka ada institusi yang namanya sekolah baik yang dikelola oleh negeri atau atau sekolah yang dikelola oleh swasta.
Namun di hari Pendidikan Nasional kali ini yang jatuh setiap setiap 2 Mei, banyak fakta yang masih menyedihkan mengenai pendidikan di Indonesia, seperti 6 hal berikut ini :

1. Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan di Indonesia berdasarkan data UNESCO 2011 menduduki peringkat 69 dari 127 negara, pada 2012 menjadi peringkat 64 dari 120 negara, dan pada 2013 naik tiga peringkat menjadi 121 dari 185 negara.

Berdasarkan data diatas, dapat dikatakan pendidikan Indonesia masih di urutan yang sangat-sangat memprihatinkan. Maka jangan heran untuk urusan pendidikan banyak orang tua yang memiliki banyak uang mengirim anaknya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

2. Guru

Tahukah kamu kalau distribusi guru di Indonesia tidak merata, berdasarkan data Teacher Employment & Deployment, World Bank 2007 : jumlah kekurangan guru di Indoensia sebesar 21% sekolah di perkotaan, 66% di pedesaan atau daerah terpencil, dan 34% sekolah di Indonesia kekurangan guru.

Dan yang lebih mengejutkan sebanyak 54% guru di Indonesia tidak memilki kualifikasi yang kompeten untuk mengajar. Maka jangan heran kekurangan-kekurangan dari tenaga pengajar ini menyebabkan kualitas pendidikan di setiap daerah berbeda, bahkan anak-anak yang sekolah di perkotaan sekalipun saat menjelang ujian nasional lebih memilih belajar bersama guru bimbingan belajar di tempat lesnya, ketimbang guru di sekolahnya.

3. Kurikulum

Sistem pendidikan atau kurikulum di Indonesia dari tahun ke tahun memiliki perubahan dan kebijakan yang berbeda. Coba saja lihat dari penamaan ujian nasional mulai dari Ebtanas, UAN, UN hingga kebijakan standarisasi nilai kelulusannya sendiri. Belum lagi setiap tahun buku pelajaran selalu berubah-ubah karena perubahan kurikulum dan harga buku pelajaran atau buku penunjang memilki harga yang cukup mahal.

Hal ini akan sangat terasa bagi siswa-siswi yang kemampuan ekonomi keluarganya masih dibawah rata-rata, mereka tidak bisa memakai buku bekas kakak kelas atau saudaranya yang 1-2 tahun diatasnya. Padahal buku pada kegiatan belajar mengajar merupakan kebutuhan yang sangat penting.

4. Pelajaran Penting

Setiap anak di sekolah tentunya memiliki kemampuan dan daya serap yang berbeda-beda. Ada anak yang senang dengan matematika namun ada anak yang lebih senang dengan pelajaran seni. Pelajaran sekolah seolah lebih memprioritaskan pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris dan pelajaran-pelajaran lainnya yang diujikan di Ujian Nasional.

Pelajaran seni, olahraga dan keterampilan seolah menjadi pelajaran pemanis yang tidak terlalu diutamakan. Padahal otak memiliki 2 bagian kiri dan kanan yang harus di imbangi dengan seni agar tidak merasa stres. Peran seni dan pelajaran keterampilan porsinya juga sangat sedikit di banding pelajaran-pelajaran inti.

5. Perkembangan Mental Anak

Karena banyak murid dalam satu kelas, dan setiap anak memiki permasalahan dan karakter yang berbeda-beda. Kadang hal ini tidak bisa dikontrol oleh guru, misalnya ketika seorang anak menjadi korban bully di kelas, mengalami tindak kekerasan, ancaman, hingga pelecehan seksual. Justru terjadi di sekolah yang merupakan sebuah institusi pendidikan.

6. Putus Sekolah

Berdasarkan data pendidikan tahun 2010 disebutkan sebanyak 1,3 juta anak 7-15 tahun terancam putus sekolah. Sebenarnya yang mempengaruhi angka putus sekolah di Indonesia sangat beragam, namun masalah yang paling sering ditemui adalah soal biaya sekolah yang sangat tinggi sehingga banyak anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

(sumber)

NO COMMENTS

Comments are closed.