Gara-gara Kesal Sampah Berserakan, Wanita ini Bikin Bisnis Beromzet Rp 132 M

Gara-gara Kesal Sampah Berserakan, Wanita ini Bikin Bisnis Beromzet Rp 132 M

11
0
SHARE

Botol air dari plastik adalah salah satu masalah bagi banyak konsumen di berbagai negara. pasalnya, botol plastik tersebut tidak bisa dipakai ulang dan menimbulkan sampah yang sulit untuk diolah.
Pengusaha Sarah Kauss mempunyai ide yang sangat cemerlang dalam memecahkan masalah botol air dari plastik ini. Dia membuat tempat minum dari stainless steel yang bisa diisi ulang. Ide ini didapatnya ketika reunian lima tahun lalu dan seorang profesor melakukan presentasi tentang krisis air global sebagai dampak dari planet ini ‘penuh’ sampah plastik.
“Ketika itu seorang profesor presentasi tentang krisis air dan sampah plastik. Saat itu saya tahu bahwa ide botol (stainless steel) saya harus terjadi,” ucap Sarah dilansir dari CNN di Jakarta, Rabu (27/5).
Sarah Kauss sendiri selama ini mengaku tidak menggunakan botol air plastik, dia membawa botol dari logam. Menurutnya, botol air logam sangat bagus namun sangat kurang dari segi penampilan.
Usaha botol stainless steel Sarah dimulai pada 2010 silam dengan nama S’well. Botol stainless stell ini bisa diisi ulang dan menjaga minuman dingin selama 24 jam dan minuman panas selama 12 jam.
Sejak itu, perusahaan UKM yang berbasis di New York ini sudah menjual 4 juta botol. Pendapatan perusahaan juga melonjak tajam hingga 400 persen antara tahun 2013 dan 2014, atau sekitar USD 10 juta atau sekitar Rp 132 miliar tahu lalu. “kami berharap pendapatan akan terus tumbuh pesat tahun ini,” katanya.
Sarah sempat bercerita bahwa dia tidak pernah berharap untuk menjadi seorang pengusaha. Sebelumnya Sarah bekerja di Ernst & Young yang memegang investasi real estate dan mengelola proyek proyek internasional.
Namun demikian, dia sekarang jadi pengusaha dengan harapan botol air plastik bisa ‘ditinggalkan’. Dia menyebut, botol air minum stainless steel milik dia sangat aman dengan gaya atau style yang menarik.
“Kalau pakai botol logam mungkin menarik untuk gym atau ketika berkemah. Tapi, untuk eksekutif mungkin tidak cocok karena gaya tidak menarik,” tambahnya.
Menurut Sarah, asal mula usaha ini, dia mengeluarkan modal uang sendiri hanya sekitar USD 30.000 atau sekitar Rp 396 juta. Dia berharap, dengan usahanya ini bisa melindungi bumi dari sampah.
Usaha Sarah terus meningkat dan saat ini dia sudah mengeluarkan 90 warna dan tiga ukuran botol air dengan harga antara USD 25 hingga USD 45. Botol buatan Sarah juga sudah dijual di toko besar di New York termasuk J.Crew dan Starbucks.
Saat ini dia sudah mempunyai 30 karyawan. Perusahaan juga sudah memulai membuat botol yang terlihat seperti kayu. Setiap penjualan botol mirip kayu ini, Sarah mengalokasikan dana untuk menanam pohon di Amerika. Hal ini sebagai bentuk usaha Sarah tidak hanya mencari untung namun juga peduli dengan lingkungan.
“Tahun lalu kita sudah tanam 20.000 pohon di kampung saya di Florida,” tutupnya.
[idr]

NO COMMENTS

Comments are closed.